The L.Th.
L.Th.

Collated and edited by Ross Woods, 2026

Up until the 1980s, Bible college students in Commonwealth countries could earn their college's internal diploma. However, they could also take external examinations to earn the Licentiate in Theology. At that time, it was the main qualification available and the Bachelor degree was not well known.

Origins

The Licentiate in Theology degree originated in 12th-century medieval European universities as an official Church authorization granting a scholar the licentia docendi ("permission to teach") theology. Over the centuries, its purpose split into distinct Roman Catholic, Anglican, and Reformed traditions.

The degree evolved out of cathedral schools, such as Notre-Dame in Paris. It was not initially an academic degree, but a certificate issued by a Church authority (like a cathedral chancellor) verifying that a student was qualified to teach doctrine and combat heresy. It was a license to teach.

The degree was formally structured at the University of Paris under papal statutes in 1215. It served as the mid-tier bridge between the preparatory Bachelor of Arts and the ultimate Master or Doctor of Divinity. Students spent upwards of eight years attending public disputations, studying the Bible, and lecturing on Peter Lombard’s Sentences to earn the license.

The Roman Catholic Tradition (The S.T.L.)

Following the Protestant Reformation, the Catholic Church codified the qualification into a strict, uniform academic track. Today, it is known as the Licentiate in Sacred Theology (Licentia in Sacra Theologia, or S.T.L.). 

The Anglican and Commonwealth Tradition: The 19th-Century Pivot

By the early 1800s, critics argued that the traditional universities—Oxford and Cambridge—were failing to provide adequate, professional vocational training for ministers, focusing instead on basic scriptural exams for elite graduates. [1]

In England, the Licentiate in Theology (L.Th.) transformed from a medieval teaching credential into the primary, non-degree route for training Church of England parish clergy during the 19th and 20th centuries. Durham University introduced the Licence in Theology (L.Th.) when it opened in 1833.

It took on a highly practical, non-academic role centered on direct parish ministry rather than university teaching. It was designed as a brief, accessible, intensive two-year vocational track for men seeking ordination in the Church of England who did not need a full Bachelor of Arts. In this context, "Licentiate" meant a literal license from the university to present oneself to an Anglican bishop for Holy Orders. It emphasized practical pastoral care, Church history, and Hebrew. Crucially, it allowed non-graduates (men without a standard Bachelor of Arts degree) a direct pathway to ordination into the priesthood, serving as a literal university license certifying that the holder was competent to be ordained by an Anglican bishop.

Expansion and Abolition (1870–1949)

The L.Th. rapidly evolved to accommodate England's growing network of independent regional theological colleges.

Academic Standing by System

Because of these branching histories, the Licentiate in Theology holds radically different values depending on the context today:

  Common Abbreviation Current Academic Equivalent Primary Function
Roman Catholic S.T.L. / L.Th. Above a Master's; comparable to PhD comprehensive exams Mandatory qualification to teach in seminaries.
Anglican / Episcopal L.Th. Undergraduate Diploma / Certificate Practical training and credentialing for local parish ministry.
Continental European Lic. Theol. Master of Arts / Master of Theology Traditional standard university degree required before starting a doctorate.

What degree came after the L.Th.?

The degree that comes after a Licentiate in Theology depends entirely on whether one is following the Roman Catholic academic track or the Anglican/Commonwealth vocational track.

In the historic Anglican and British Commonwealth traditions (such as in Australia, New Zealand, and Canada), the L.Th. was usually an undergraduate-level diploma, although in one case it was issued as an undergraduate degree and required a small thesis. The immediate next steps were undergraduate or postgraduate degrees:

Sampai tahun 1980-an, mahasiswa perguruan tinggi Alkitab di negara-negara Persemakmuran Inggeris dapat memperoleh diploma internal perguruan tinggi mereka. Namun, mereka juga dapat mengikuti ujian eksternal untuk memperoleh Licentiate in Theology. Pada saat itu, itu adalah kualifikasi utama yang tersedia dan gelar Bachelor in Theology belum begitu dikenal di kalangan perguruan tinggi Alkitab.

Asal Usul

Gelar Licentiate in Theology berasal dari universitas-universitas Eropa abad pertengahan pada abad ke-12 sebagai pengesahan resmi Gereja yang memberikan kepada seorang sarjana licentia docendi ("izin untuk mengajar") teologi. Selama berabad-abad, tujuan gelar ini berkembang menjadi tradisi yang berbeda dalam Gereja Katolik Roma, Anglikan, dan Reformed.

Gelar ini berkembang dari sekolah-sekolah katedral, seperti Notre-Dame di Paris. Pada awalnya, gelar ini bukan merupakan gelar akademik, melainkan sertifikat yang diterbitkan oleh otoritas Gereja (seperti kanselir katedral) untuk menyatakan bahwa seorang mahasiswa memenuhi syarat untuk mengajarkan doktrin dan melawan ajaran sesat. Dengan kata lain, ini merupakan izin untuk mengajar.

Gelar ini secara resmi ditata di Universitas Paris berdasarkan statuta kepausan pada tahun 1215. Gelar ini berfungsi sebagai jenjang menengah yang menjembatani Bachelor of Arts sebagai tahap persiapan dengan Master atau Doctor of Divinity sebagai jenjang tertinggi. Untuk memperoleh izin tersebut, mahasiswa menjalani pendidikan selama delapan tahun atau lebih dengan mengikuti debat-debat akademik terbuka, mempelajari Alkitab, dan memberikan kuliah mengenai Sentences karya Peter Lombard.

Tradisi Katolik Roma (S.T.L.)

Setelah Reformasi Protestan, Gereja Katolik membakukan kualifikasi ini menjadi jalur akademik yang ketat dan seragam. Saat ini, gelar tersebut dikenal sebagai Licentiate in Sacred Theology (Licentia in Sacra Theologia, atau S.T.L.). 

Tradisi Anglikan dan Persemakmuran: Perubahan Arah pada Abad ke-19

Pada awal tahun 1800-an, para pengkritik berpendapat bahwa universitas-universitas tradisional—Oxford dan Cambridge—gagal memberikan pelatihan profesional dan kejuruan yang memadai bagi para pelayan gereja karena lebih berfokus pada ujian dasar mengenai Kitab Suci bagi para lulusan dari kalangan elite. [1]

Di Inggris, Licentiate in Theology (L.Th.) berubah dari kualifikasi mengajar abad pertengahan menjadi jalur utama non-gelar untuk mempersiapkan pendeta paroki Church of England selama abad ke-19 dan ke-20. Durham University memperkenalkan Licence in Theology (L.Th.) ketika universitas tersebut dibuka pada tahun 1833.

Kualifikasi ini kemudian mengambil peran yang sangat praktis dan non-akademik, yang berpusat pada pelayanan langsung di paroki dan bukan pada pengajaran di universitas. Program ini dirancang sebagai jalur pendidikan kejuruan singkat, mudah diakses, dan intensif selama dua tahun bagi laki-laki yang hendak ditahbiskan dalam Church of England tetapi tidak memerlukan gelar Bachelor of Arts penuh. Dalam konteks ini, "Licentiate" secara harfiah berarti izin dari universitas yang memungkinkan seseorang mengajukan diri kepada seorang uskup Anglikan untuk menerima tahbisan (Holy Orders). Program ini menekankan pelayanan pastoral praktis, sejarah gereja, dan bahasa Ibrani. Yang sangat penting, program ini memberikan kepada mereka yang bukan lulusan universitas (laki-laki yang tidak memiliki gelar Bachelor of Arts standar) jalur langsung menuju tahbisan sebagai imam. Dengan demikian, L.Th. berfungsi sebagai izin resmi dari universitas yang menyatakan bahwa pemegangnya memiliki kompetensi untuk ditahbiskan oleh seorang uskup Anglikan.

Perluasan dan Penghapusan (1870–1949)

L.Th. berkembang dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan jaringan perguruan tinggi teologi regional independen yang semakin bertambah di Inggris.

Kedudukan Akademik Menurut Sistem

Karena sejarahnya berkembang ke dalam beberapa jalur yang berbeda, Licentiate in Theology saat ini memiliki kedudukan akademik yang sangat berbeda tergantung pada konteksnya:

  Singkatan Umum Kesetaraan Akademik Saat Ini Fungsi Utama
Katolik Roma S.T.L. / L.Th. Di atas gelar Master; dapat dibandingkan dengan ujian komprehensif PhD Kualifikasi wajib untuk mengajar di seminari.
Anglikan / Episkopal L.Th. Diploma / Sertifikat tingkat sarjana Pelatihan praktis dan kualifikasi untuk pelayanan di paroki setempat.
Eropa Kontinental Lic. Theol. Master of Arts, Master of Theology Gelar universitas standar tradisional yang harus diperoleh sebelum memulai program doktoral.

Gelar Apa yang Ditempuh Setelah L.Th.?

Gelar yang ditempuh setelah Licentiate in Theology sepenuhnya bergantung pada apakah seseorang mengikuti jalur akademik Katolik Roma atau jalur pendidikan kejuruan Anglikan/Persemakmuran.

Dalam tradisi historis Anglikan dan Persemakmuran Britania (seperti di Australia, Selandia Baru, dan Kanada), L.Th. biasanya merupakan diploma tingkat sarjana, meskipun dalam satu kasus diberikan sebagai gelar sarjana dan mensyaratkan penulisan tesis singkat. Jenjang berikutnya biasanya berupa gelar sarjana atau pascasarjana:

CC BY-NC-ND
This work is released under a CC BY-NC-ND license, which means that you are free to do with it as you please as long as you (1) properly attribute it, (2) do not use it for commercial gain, and (3) do not create derivative works. Link
Disclaimer: Artificial Intelligence (AI) was used in some parts of this book. If AI plagiarized your content, contact the author with evidence to initiate changes.